Senin, 09 Oktober 2017

Berjuang Untuk Keluarga dan Indonesia

Tinggal di sebuah desa bernama Tridayasakti, Kabupaten Bekasi yang masih asri ini tempat saya dibesarkan. Kami hidup dengan kesederhanaan dan kemandirian, ayah saya seorang wiraswasta kecil dengan produk minuman herbal yang memiliki jiwa wirausaha tinggi dan ibu yang tak kenal lelah mengajar membaca Alquran untuk anak-anak. Sejak kecil saya sudah merantau menuntut ilmu di Banten saat SMP dan SMA, dengan kemandirian serta didikan kedua orangtua membawa harapan besar untuk saya menjadi orang yang mampu berkontribusi bagi keluarga dan Indonesia. Sekarang saya bersyukur menjadi salah satu di antara bocah desa yang mampu menempuh pendidikan sarjana di Universitas Negeri Jakarta, dan terus melangkah mewujudkan impian. Impian saya adalah menjadi seorang Peneliti muda berjiwa wirausaha.


Saya mengikuti berbagai organisasi sejak Sekolah Menengah Atas hingga saat ini di kampus, yaitu Pramuka, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Prodi Biologi, Kelompok Pengamat Burung (KPB) Nictycorax, dan Masjid Ulul Albab. Berbagai peran saya ikuti demi mengasah kemampuan  dalam kepemimpinan dan keputusan solutif untuk mampu berkontribusi nyata dalam menangani tiap aspek permasalahan di Indonesia.
Salah satu prestasi yang saya raih adalah saat menjadi delegasi sekolah dalam lomba simulasi sidang ASEAN se-Banten 2015. Lomba ini memperilhatkan bagaimana kerjasama antar Negara-negara ASEAN dalam Politik, pendidikan, sosial, keamanan dan terutama bidang ekonomi. Lomba ini terdiri dari tiga fase, yaitu pemaparan visi masing-masing negara, Lobi kerjasama, dan kesepakatan (MOU) hubungan kerjasama. Disini saya dan tim dapat mengenal apa kerjasama yang ditawarkan Indonesia di mata ASEAN, dan betapa peran strategis Indonesia di kancah Asia Tenggara dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016.
Setelah selesai mengikuti lomba simulasi sidang ASEAN, saya berusaha melakukan berbagai kontribusi untuk Indonesia. Di tahun 2017, saat ini saya menjadi tim ahli Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta di Prodi Biologi, dan juga masih menyusun proposal PKM terkait usaha pengembangan minuman herbal temulawak, temumangga, alang-alang dan jahe hasil industri rumah tangga sendiri, serta ikut  dalam kelompok PKM pengabdian masyarakat pesisir Marunda dengan judul ”Literasi Pesisir Alam Jakartaku Lestari Ekosistemku” bersama kakak kelas. Program kreativitas ini menempatkan saya untuk terus mendorong jiwa kelimiahan dan kewirausahaan  tiap mahasiswa melalui pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan.
Tahun 2025 Visi iptek diharapkan dapat mendorong pembangunan iptek nasional, menciptakan kesejahteraan dan berdaya saing dengan negara-negara lain.. Namun jumlah peneliti di Indonesia sangat minim dengan hanya 90 peneliti per satu juta penduduk, juga dengan belanja nasional untuk kegiatan penelitian dan pengembangan iptek baru 0,09 persen, bahkan institusi riset Indonesia dapat dihitung jari.
Dalam hal pengembangan iptek, jumlah peneliti Negara Brasil mencapai 700 orang per 1 juta penduduk. Rusia 3000 peneliti per 1 juta penduduk, India 160 peneliti per 1 juta penduduk, Korea 5900 peneliti per 1 juta penduduk dan Tiongkok 1020 peneliti per 1 juta penduduk (sumber: Kompas.com). Belum lagi belanja pengembangan iptek dan intitusi riset yang banyak.
Bila saya mendapat kesempatan beasiswa ini, saya ingin mengambil peran sebagai seorang peneliti yang produktif dengan mampu meningkatkan kualitas kelimiahan peneliti muda Indonesia dan mampu berwirausaha membangun lapangan kerja yang sehat di masyarakat, serta berkomitmen untuk melanjutkan studi pascasarjana. Saya berharap dengan banyaknya peneliti muda yang juga seorang entrepeneur akan menjadikan generasi kita mandiri di negeri sendiri, berwawasan global dan memiliki daya saing untuk terciptanya generasi emas Indonesia.